Showing posts with label Sajak. Show all posts
Showing posts with label Sajak. Show all posts

Sunday, January 5, 2014

WAKTU

0 comments


Adalah waktu yg membuat kita menunggu, menanti dan  mendapatkan apa yang kita inginkan.

Adalah waktu yg membuat kita tumbuh, membuat kita bisa merasakan cinta.

Adalah waktu yg membawa kita ke titik ini, sebuah titik dimana hati menentukan pilihannya.


Mungkin kita bisa bergelut dengan waktu sedikit lebih lama, hanya untuk memastikan detik demi detiknya menjadi berarti.

Mungkin waktu tidak mengijinkan tubuh ini menahan rindu yg hanya dibebankan kepada hati.

Tidakkah kita percaya bahwa waktulah yg mempertemukan kita, dan membantu kita sampai pada pertengahan jalan ini.


Seolah kita berbicara kepada hangatnya mentari atau sejuknya pagi yg merasakan aliran waktu.

Jam di dinding bukan lagi sebagai penunjuk waktu, namun sebagai penuntun kita menuju sesuatu yg baru.

Keputusan waktulah yg membuat kita bertemu dan mungkin akan memisahkan takdir kita.


Aku berteriak kepada hujan yg datang diwaktu yg tidak tepat, namun bukan salah waktu, hujanlah yg menginginkannya.

Sama seperti cinta yg bisa datang kapan saja, pada saat kita mencari bahkan saat kita menyerah, cinta akan datang pada saat dia menginginkannya.

Pada saat itulah kita berharap agar waktu juga yg meneriakan ke hati kita ini adalah waktunya.


Waktu menuntun kita dari masa lalu hingga masa kini dan selanjutnya akan membawa kita menuju masa depan.

Dentang jam menjadi pertanda perjalanan yg belum usai.

Kita hanya perlu menunggu karena itu adalah hal yg dari dulu hingga kini selalu kita lakukan, tak perduli bosan atau tidak.


Walau terkadang waktu megatakan kepada kita untuk sedikit menunggu, kita hanya berusaha percaya kepada alurnya yg melekat pada denyut nadi.

sedangkan kamu, kamu adalah aliran waktu yg tak pernah berhenti berjalan, berjalan dipikiranku.

Karena hanya kamu dan waktu yg sanggup membuatku menunggu :)


(Pict Source: http://harimgh.files.wordpress.com/ )
newer post

Saturday, December 22, 2012

Kepada hujan kubertanya

0 comments
Kepada hujan ku bertanya.

Kepada malam ku berbisik.

Apakah ini nyata, atau hanya sebuah ilusi.

Saat yang berada di dekatku hanya bayanganku sendiri.

Namun terdengar suara langkah kaki.

Masih nampak jejaknya, yang perlahan terhapus oleh hujan.

Masih terdengar suaranya, yang perlahan terhapus oleh angin.

-----------

Aku tidak sendiri, juga tidak bersamamu.

Aku hanya hidup di dalam dunia ku.

Yang aku sendiri tak tahu itu dimana.

Berteman kesunyian, dan bayanganku sendiri.

Bukannya aku menjauh.

Tapi memang ragamu tak bisa ku raih.

Bukannya aku menepi.

Hanya saja, memang kau yang sulit tuk ku jangkau.

-----------

Lagi.....

Hujan membuatku memikirkanmu sekali lagi.

Hujan membuat namamu melintas lagi.

Seolah-olah kau ada disini.

Padahal aku disini hanya ditemani bayanganku sendiri.

Apa hanya perasaanku saja, atau memang ada sesuatu yang berbeda.

------------

Jauh.....

Satu kata yang bisa menggambarkan keadaan kita.

Cantik.....

Satu kata yang bisa menggambar kan kamu.

Indah.....

Sekali lagi, itulah kamu.

Sementara aku.

Aku hanya orang yang hanya sanggup menulis, tanpa bisa berbicara langsung.

-------------

Jika kau menatap hujan, dan membayangkanku.

Disaat yang sama aku juga membayangkanmu.

Maka kehangatanlah yang akan kita rasakan.





(pict source: google.com)
newer post

Friday, December 21, 2012

Hanya aku, kamu dan cangkir teh kita

0 comments
Biar ku mulai dengan ini.

Rindu itu bagai remah-remah biskuit, kecil, banyak dan sulit hilang.

Sedangkan rinduku padamu bagai cangkir teh kita, isinya tidak berkurang sedikitpun.

Ku telusuri hatiku, mencoba menjelajahi lika-likunya. Kusadari satu hal, wajah cantik dan senyum manis mu tersimpan disana.

Akan kah malam mempertemukan kita, atau siang mempersatukan kita. Aku tidak tahu tapi yang ku tahu, siang dan malam hanya ada 'kita'.



----------------


Kulihat cangkir tehmu masih penuh, begitu juga aku. Ternyata sedari tadi kita hanya saling memandang, tanpa melakukan apapun.

Dari balik jendela cafe ini kulihat perlahan hujan turun dan kau menatap ke jendela. Bukan hujan yang kau lihat tetapi pantulan wajahku disana. Begitu juga aku yang memandang bias wajahmu disana.

Detik demi detik berlalu, sejenak tatapan ku beralih pada cangkir tehmu yang perlahan dingin namun masih tak berkurang isinya.

 Hati ku berbisik, menjerit seakan akan ingin menumpahkan segala isi pikiranku di hadapanmu. Tapi di pikiranku saat ini hanya ada kamu.

Kalimat demi kalimat kita berdua ucapkan, hanya untuk mengusir rasa bosan, tapi bukan rasa rindu. Karena rindu tidak bisa diusir, ia datang dan pergi begitu saja.

Sejenak kulihat lagi hujan turun, deras bagai cinta yang tak terbalas, hanya menyisakan genangan-genangan kenangan yang tertinggal setelahnya.

Lalu kutatap lagi wajahmu, dan cangkir tehmu.

Kita sudah membuat dua cangkir teh menanti.

Ahh.... Kau harus menunggu sedikit lebih lama lagi, cangkir teh.

Cinta itu bagai teh saat diseduh, ketika teh (aku) bertemu air (kamu) maka kita akan menyatu menjadi rasa yang baru.

Sedangkan hati ku bagai tishue di sebelah kita, rapuh.

Tapi bersamamu kita bagai sendok dan garpu dihadapan kita, tak akan terpisahkan.

Jadi, di sini, hanya ada aku, kamu, dan cangkir teh kita :)

(pict source: www.google.com)
newer post
older post Home